If you choose self-pickup, we will email you when your order is ready. We usually take 2 to 3 days to process your order. Thank you! ♥️

Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda

Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda

Secara keseluruhan, buku ini menganalisis citra kaum perempuan pada zaman Hindia Belanda melalui novel sebagai karya sastra. Tineke mengawali bukunya dengan menceritakan sejarah Hindia Belanda. Penemuan Asia Tenggara pertama kali oleh seorang Portugis, Affonso de Albuquerque. Kedatangan bangsa Belanda pertama, dipimpin Cornelis de Houtman, pada 1596. Pendirian Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Tindakan Jan Pieterszoon Coen mendirikan markas besar VOC di Pulau Jawa, tepatnya di Jacatra (yang kemudian diubah menjadi Batavia). Serta, perkembangan VOC selanjutnya. Menjelang akhir abad ke-18, VOC bangkrut. Tetapi, penjajahan terus berlanjut. Tineke menceritakan kehidupan sosial di Hindia Belanda yang terbagi atas golongan-golongan. Golongan atas adalah orang Belanda atau Eropa. Golongan menengah terdiri atas orang Indo dan Tionghoa. Lalu, penduduk pribumi sebagai golongan bawah. Tineke kemudian menceritakan mengenai perempuan yang berada di Hindia Belanda. Dengan tujuan akhir untuk menciptakan komunitas yang stabil dan permanen di kepulauan nusantara, kompeni membatasi imigrasi perempuan dari negeri Belanda. Selama 250 tahun pertama, hanya sedikit perempuan Eropa menetap di tanah jajahan ini, tulis Tineke. Begitupun dengan perempuan Tionghoa. Sampai bagian akhir abad ke-19, jarang sekali perempuan Tionghoa bermigrasi ke Hindia Belanda, lanjut Tineke. Akibatnya, dalam pola yang mirip, lelaki Belanda (dan Eropa) serta lelaki Tionghoa menikahi perempuan lokal. Masalah yang timbul selanjutnya, bagi lelaki Belanda (dan Eropa), adalah masalah agama. Lelaki kristen dilarang menikahi perempuan nonkristen. Dalam era VOC, orang Eropa selalu memerlukan izin untuk menikah. Garis pemisah utama dalam masa ini ialah agama, bukan ras, cerita Tineke, Karena keadaan itu, banyak laki-laki yang tak pernah mengawini perempuan Asia, melainkan hidup dengannya sebagai gundik atau nyai. Setelah VOC tidak ada lagi, larangan bagi orang kristen mengawini perempuan yang bukan kristen tetap berlaku. Sehingga, pergundikan tetap berlanjut. Selain pergundikan, pelacuran pun merajalela. Memasuki Bab Empat, Tineke menguraikan bahasa teks dan para pengarang karya sastra yang akan ia analisis. Bahasa teks terdiri atas bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Jelas bahwa karena perbedaan dalam bahasa, isi buku ditujukan kepada khalayak pembaca yang sama sekali berbeda, tutur Tineke. Ada sebelas pengarang yang dianalisis karya sastranya oleh Tineke. Lima orang menulis karyanya dalam bahasa Belanda yaitu Louis Couperus (P.A. Daum (Annie Foore (nama aslinya Francoise Ijzerman-Junius), Melati Van Java (nama asli Nicoline Maria Christine Sloot), dan Therese Hoven

Write a review

Note: HTML is not translated!
    Bad           Good
  • Brand: Buku Obor
  • Product Code: 9789794616635
  • Availability: In Stock
  • RM20.00

Tags: MANUSIA INDONESIA - MOCHTAR LUBIS